Kamis, 11 Juni 2009

Laskar Semesta : Refleksi Kehidupan




Salam semesta
Sebarkan kedamaian, menuju masa-masa hidup yang di rindukan. Untuk mencapai kehidupan yang diidamkan. Lintas agama, lintas golongan. Kesampingkan fanatik ras dan kesukuan.

Kawan, Aku kadang tidak mengerti dengan para saudaraku senegara. Perang, penindasan, bentrokan yang hanya disebabkan karena perbedaan sara sering terjadi. Apakah mereka tidak bisa untuk saling mengerti untuk kemduian hidup damai. Yang kesemuanya itu pasti sangat indah untuk dilihat dan dirasakan. Heterogennya masyarakat Indonesia yang terdiri dari bebagai suku termasuk suatu celah besar yang membuat bentrokan – bentrokan para fanatikus sering terjadi. Hegemoni sustu atas suku lain lah yang memainkan peran besar dalam perpecahan yang terjadi.
Tragedi berdarah yang terjadi antara suku dayak, madura, sambas dan bugis di pontianak merupakan salah satu contoh maladjustemen ( ketidak mauan untuk menyasuaikan diri ) antar suku yang berdiam dalam satu tempat dan menjadi korban hegemoni mereka sendi-sendiri.
Lebih-lebih lagi kepada saudaraku seagama, aku tambah tidak mengerti. Cuma gara-gara beda organisasi dan jama'ah ( madzhab ) mereka tidak mau kumpul. Pernah ku temui kawan, didesa sebelahku ada 2 masjid yang di bangun secara berdekatan. Ironisnya, jama'ah masjid yang sholat pada salah satu majid di situ tidak akan mau ketika di suruh solat pada masjid yang lain. Ini di sebabkkan hanya karena beda jama'ah saja.
Umat Islam sudah cukup lama terombang-ambing dalam gelombang perpecahan aneka ragam alirannya dan masing-masing pihak merasa hanya kaumnya sajalah yang paling benar serta layak memasuki surga. Dan selain kaum mereka ini maka kaum lainnya berada pada posisi salah dan neraka halal baginya. Ujung-ujungya tidak urung ayat-ayat al-Qur'an dan Hadist-hadist Nabi justru dijadikan ujung tombak untuk menjustifikasikan pendapat-pendapat mereka untuk menghantam lawan bicaranya sesama Muslim, entah itu mereka yang menisbatkan diri dalam jemaah Ahlus-Sunnah, Syi'ah, Mu'tazilah, Khawarij, Ahmadiyah dan sebagainya. sebenarnya mereka cukup sadar bahwa yang mereka perdebatkan ini tidak lain adalah sesuatu penafsiran terhadap hal yang sama dalam sudut pandang yang berbeda.
Lebih-lebih sering kita lihat di telivisi, hanya karena berbeda madzhab dan pendapat, nyawa ikut di jadikan korban daripada tubrukan-tubrukan itu. Ditambah antar negara-negara Islam sendiri hampir tidak ada kata persaudaraan, semuanya mementingkan diri sendiri, sehingga sebagaimana faktanya, hancurlah rezim Taliban di Afganisthan, porak-porandalah Iraq berikut rezim Saddam Husiennya sehingga sekarang iraq di jadikan lahan perang terbuka antara syi'ah dan sunni. Pelestina yang di jadikan sebagai tempat penjagalan dan penindasan oleh bangsa Israel yang hal ini di sebabkan hanya karena perbedaan cara pandang antara hamas dan fatah, yang ini semua tidak akan terjadi kalau mereka semua mau seia sekata dan tidak saling memaksakan kehendak mereka tersendiri. walaupun secara pribadi saya tidak setuju saudara saya seagama di tindas dan di aniaya, tetapi ketika berhubungan dengan kepentingan hidup orang banyak, apakah hal-hal perbedaan pendapat yang berujung pada permintaal tumbal tida dapat di kesampingkan ? Apalagi sekarang ada PBB walaupun boleh di bilang sebagai boneka amerika, tetapi ketika kita berangkat bersama – sama akankah PBB tetap tidak akan menggubris kita ?
Di berbagai tempat juga kita meributkan masalah ke-Khalifahan, orang Syi'ah merasa lebih tinggi dari ahlus-Sunnah dan sebaliknya kaum ahli-Sunnah pun tidak jarang malah memperolok-olokkan kaum Syi'ah dan bahkan beberapa diantaranya sampai mengkafirkan mereka hanya karena mereka lebih mencintai ahli Bait Nabi Muhammad Saw dan mengeluarkan kritikan-kritikan pedas atas beberapa Muslim generasi awal ( sahabat ) dan mengkafirkannya. Fenomena Ahmadiyah juga menggelitik sejumlah umat Islam untuk mendeskreditkan sebagian dari mereka sampai mengeluarkan fatwa tidak syahnya status ke-Islaman semua Jemaah ini. Bahkan sebagian dari umat islam dari golongan garis keras merobohkan tempat-tempat ibadah dan mengusir para penganutnya dari rumah mereka. Sampai-sampai ada yang tidak tahan dan minta perlindungan (…….) ke Negara lain.
Padahal Rasulullah Saw pun telah bersabda :
"Janji keselamatan bagi kaum Muslim berlaku atas mereka semua, dan mereka semua seia-sekata dalam menghadapi orang-orang selain mereka. Barangsiapa melanggar janji keamanan seorang Muslim, maka kutukan Allah, Malaikat dan manusia sekalian tertuju kepadanya dan tidak diterima darinya tebusan atau pengganti apapun pada hari kiamah kelak."
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak boleh ia menganiayanya dan tidak pula membiarkannya dianiaya. Barangsiapa mengurusi keperluan saudaranya sesama Muslim, niscaya Allah akan memenuhi keperluannya sendiri. Dan barangsiapa membebaskan beban penderitaan seorang Muslim, maka Allah akan membebaskan penderitaannya dihari kiamat kelak. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Mukmin, maka Allah akan menutupi aibnya dihari kiamat."
Bukhari dalam kumpulan hadistnya telah meriwayatkan beberapa sabda Rasulullah Saw :
"Barangsiapa bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, menghadap kiblat kita, mengerjakan sholat kita dan memakan hasil sembelihan kita, maka ia adalah seorang Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yang sama sebagai Muslim lainnya."
Berdasarkan ayat-ayat Allah dan fatwa Nabi Muhammad Saw diatas, adalah tidak pada tempatnya kita selaku manusia yang mengaku beragama Islam dan mengaku telah beriman secara Kaffah menciptakan suasana rusuh dan mengobarkan semangat perpecahan dikalangan sesama Muslim.
Isu perpecahan didalam Islam memang bukan hal yang baru dan rasanya ini sesuatu yang wajar karena setiap orang bisa memahami ajaran Islam dari sudut pandang keilmuan yang berbeda, apalagi Islam mencakup pengajaran semua bangsa dan daerah yang masing-masingnya memiliki corak budaya, tradisi serta situasi yang beraneka ragam sebagai salah satu sifat universalismenya. Padahal, apabila kita ingin berbicara jujur, perselisihan yang terjadi antar umat Islam dan antar Jemaah maupun Mazhab hanyalah karena masing-masing memiliki penafsiran berbeda tentang al-Qur'an dan Hadist Rasul.
Semua perbedaan tersebut seharusnya tidak dijadikan sekat dalam mengembangkan rasa kebersaudaraan dan toleransi beragama, akan tetapi di jadikan sebagai pelengkap antara satu dengan yang lain dan sebagai pewarna kehidupan kita di dunia ini.
Dikalangan ahlus-Sunnah terdapat banyak Madzhab yang dipimpin oleh Imamnya masing-masing, diantaranya yang terbesar adalah Imam Hambali, Syafi'i, Maliki dan Hanafi, ke-4 Jemaah ini memiliki banyak sekali perbedaan-perbedaan didalam penafsiran atas ayat-ayat Allah dan ahadis. Dibalik beberapa kesamaannya, masing-masing mereka memberikan argumen dari sudut pandang yang berbeda tentang banyak hal yang sama. Tetapi bentrokan fisik di kalangan ahlissunah sendiri sangat jarang terjadi, bahkan walaupun terjadi itu bukan karena perbedaan pendapat mereka tetapi ada unsur atau sebab lain diluar madhzab mereka.
Adalah suatu hal yang sangat memprihatinkan apabila sampai pada hari ini umat Islam masih bertengkar mempermasalahkan status madzhab, pola pikir atau juga sekte. Seolah merasa kebenaran adalah mutlak milik madzhab dan golongan masing-masing, diluarnya salah dan sesat.
Maraknya ajaran-ajaran sesat yang terjadi diberbagai belahan dunia akhir-akhir ini memang sewajarnya membuat umat Islam merasa prihatin, terlebih lagi mereka yang menggunakan nama dan tata cara Islam sebagai topeng yang menutupi kesesatannya. ; Akan tetapi kita juga harus mampu bersikap objektif, berpikiran terbuka dan jernih menyikapinya, selama kita belum mengetahui secara jelas seberapa jauh penyimpangan yang dianggap sudah dilakukan oleh mereka maka selama itu pula hendaknya kita menahan diri dari komentar maupun tanggapan yang justru menimbulkan keresahan dimasyarakat.
Berdasarkan dari pemikiran diataslah saya mendirikan laskar semeta. Di sini saya tidak condong pada salah satu organisasi maupun sekte keagamaan atau madzhab dan jama'ah manapun baik itu JIL, NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah, Syi'ah, Mu'tazilah, khawarij, Anti Sunnah, kejawen ataupun yang lainnya. bagi saya semua tetaplah saudara dalam iman satu Tuhan (monotheisme), benar Ahmadiyah telah saya anggap keliru dalam membedakan status Nabi dan Rasul, benar pula bahwa gerakan anti sunnah pada dasarnya tidak pernah bisa lari dari sejarah dan tradisi dan begitu pula dengan syi'ah yang keliru besar dalam pengkafiran sebagian besar sahabat Nabi Muhammad SAW dan begitu pula dengan pemikiran-pemikiran mu'tazilah dan khawarij, akan tetapi itu tidak membuat saya menjatuhkan vonis kafir terhadap golongan-golongan ini ( walaupun banyak dari sekian guru saya dan ulama' yang saya kagumi menjatuhkan vonis kafir bagi golongan-golongan itu). Jalan yang saya tempuh begitupun dengan laskar semesta adalah seperti jalan sebagian besar ulama' ketika ditanya tentang status sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan RA ? dan jawab para ulama' : beliau adalah sahabat besar yang terkemuka yang berkredibilitas tinggi. Termasuk dari perowi hadis. Cuma beliau salah bertindak.
Walaupun saya dilahirkan dari keluarga besar berbasis NU, alhamdulillah saya mempunyai seorang ayah yang tidak terikat dengan organisasi manapun. Hampir semua paman-paman saya dari ayah ikut secara organisatoris di NU bahkan dua paman saya menjadi pengurus kabupaten tempat saya tinggal tetapi ayah saya lebih tertarik kepada penggarapan organisasi-organisasi yang bersifat kemasyarakatan yang secara tidak langsung membedakan antara golongan yang satu dengan yang lain. Dan inilah juga yang meracuni saya untuk membentuk lascar semesta.
LASKAR SEMESTA TIDAK TERIKAT DENGAN ORGANISASI KEAGAMAAN DAN MADZHAB MANAPUN BAHKAN PADA AGAMA APAPUN ITU. Secara plural kami menganggap semuanya mengajarkan kebaikan dan dari masing-masing kebaikan yang diajarkan itu saya memetik nilai-nilai kebenaran yang sesuai dengan nash kitab suci serta objektifitas berpikir. Kami Cuma mengajak dan bertekat untuk untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara yang benar-benar berasaskan BHINEKA TUNGGAL IKA. Saling merhargai, bertoleransi dan menghormati antar golongan, organisasi, suku dan agama lain. Untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara yang bermartabat dan menuju masa depan yang lebih cerah untuk semua.

1 komentar:

  1. Intinya Islam itu Rahmatal Lil 'Alamin..jadi sumber rumus kehidupan adalah ALQUR'AN dan HADITS. Semua yang karangan Manusia dimuka bumi ini setelah Rasulullah Muhammad SAW adalah NOL g usah dipercaya mulai konsep, analisa, pemikiran dll kecuali Menkaji dan Menafsirkan Kalamullah AlQur'an..Hadza Thoriqu wa inni thoriqi.. Dalanmu dewe dalanku dewe yg penting aku Nurut Ajaran ALLAH SWT g ngurus uraian di atas

    BalasHapus

Di mohon untuk meninggalkan alamat email anda!